Shop My Favorites

Peran digital influencer dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia

Kalian tahu lipstik Purbasari atau Bourjois Rouge Velvet yang booming beberapa saat yang lalu? Apakah kalian salah satu orang yang berlo...

Kalian tahu lipstik Purbasari atau Bourjois Rouge Velvet yang booming beberapa saat yang lalu? Apakah kalian salah satu orang yang berlomba-lomba mencari kedua lipstik tersebut di online shop? Kalau kalian salah satu dari golongan tersebut, saya ada pertanyaan. Apa sih alasan kalian ngotot ingin membeli lipstik tersebut padahal ada ratusan merk lain? Tebakan saya adalah pasti karena kalian telah melihat atau mendengar review dari youtuber-youtuber dan digital influencer lainnya di berbagai social media. 

Kedua lipstik ini begitu dicari para wanita walaupun kedua lipstik ini tidak ada TV commercialnya atau advertorialnya di media cetak. Hal ini adalah salah satu fenomena yang telah terjadi di Indonesia. Penjualan suatu produk sudah tidak konvensional seperti beberapa tahun lalu, dimana sales door to door, TV commercial dengan menggaet selebritas ternama ataupun iklan di media cetak diperlukan. Perekenomian dipaksa bergeser dari metode konvensional dan terus berevolusi karena perkembangan jaman.

Tak dipungkiri bahwa selebriti memang memiliki mass appeal, tetapi digital influencer seperti Lizzie Parra atau Star Irawan tak dapat dipandang sebelah mata dalam menggaet pasar. Mereka telah membangun fanbasenya secara perlahan tetapi pasti atas dasar kepercayaan antara kedua belah pihak. Para digital influencer ini berinteraksi lebih dekat dengan followernya dibandingkan dengan seleb dengan fansnya. Tak heran bila seorang digital influencer terlihat menggunakan suatu produk, penjualan produk tersebut akan terdongkrak secara signifikan. Hal ini terjadi karena jalinan kepercayaan antara digital influencer tersebut dan pengikutnya. 

Don’t get me wrong, iklan juga bagus dan ampuh dalam memikat pelanggan. Akan tetapi ketika calon pelanggan mendengar review akan suatu produk dari orang yang mereka percaya, hasilnya akan lebih baik karena calon pelanggan telah yakin atas pilihannya. Data statistik dari hasil riset Nielsen Indonesia selama Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2016 menyebutkan bahwa 53 persen dari responden telah merencanakan dan mengetahui barang yang akan dibelanjakan. Calon pembeli di Indonesia adalah calon pelanggan yang tidak impulsif atas keputusannya saat berbelanja. Dalam artian, pelanggan di Indonesia telah mencari info akan suatu produk secara komprehensif. Mereka dapat mencari produk terbagus, termurah dan tercepat pengantarannya hanya dari internet sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk. 

sumber: databoks.katadata.co.id/

Dari penjelasan singkat di atas maka dapat kita lihat bahwa digital influencer memiliki peran yang penting di dalam perekenomian di era digital. Menurut pengertiannya, ekonomi digital adalah sebuah bisnis yang terjadi antara produsen dan konsumen yang menggunakan internet sebagai media atas setiap transaksi yang terjadi. 

Ambil contoh lainnya, yaitu Mark Wien dari migrationology.com yang salah satu pendapatannya didapat dari penjualan e-book di websitenya. Dimana jika hal ini terjadi saat internet belum ada, maka sebuah buku hanya dapat dibeli secara langsung di toko buku selama 10 jam saja. Tetapi tidak dengan Mark Wien dan banyaknya blogger/digital influencer lainnya yang dapat menjual produknya selama 24 jam dari berbagai belahan dunia dengan kemudahan menggunakan kartu kredit, PayPal dan sistem pembayaran online lainnya. Hal yang tampaknya mustahil 10 tahun yang lalu, kini sangat mudah dilakukan bak membalikan telapak tangan. 

Blogging awalnya hanya digunakan sebagai cara yang unik untuk seseorang dalam membagikan pikiran, opini serta pengalaman mereka. Kini blogging digunakan sebagai alat dari berbagai perusahaan untuk menggapai pelanggannya. In fact, orang-orang terbiasa mencari dulu nama sebuah produk yang ingin mereka beli di internet. Jika mereka tidak menemukan website dari produk/perusahaan tersebut dan tidak ada blogger dan digital influencer lainnya yang memberikan opini akan produk tersebut. Maka, jangan harap produk tersebut akan laku di pasaran. Perusahaan dan para blogger/digital influencer memiliki simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan satu sama lain. Produk dari perusahaan tersebut dapat terjual dan para blogger mendapatkan kompensasi atas penjualan yang diraup atas referensi dari mereka. 

Indonesia sendiri berpotensi untuk menjadi negara ekonomi digital terbesar di wilayah Asia Tenggara, baik dalam industri manufaktur maupun retail. Pesatnya jumlah populasi pengguna Internet menjadi salah satu alasan mengapa Indonesia mendapat sorotan dalam studi yang diusung Google dan Temasek tahun lalu. Berdasarkan studi tersebut, Indonesia mengalami peningkatan populasi pengguna internet sebesar 19% per tahun. Indonesia kini menempati urutan ke 4 sebagai negara pengguna internet terbesar di Asia dan kemungkinan besar pengguna Internet di Indonesia akan mencapai 215 juta jiwa sebelum tahun 2020. 

sumber: databoks.katadata.co.id/

Masyarakat Indonesia kini juga telah akrab dengan konsep e-commerce. Selain tingginya perkembangan pengguna Internet untuk mencari informasi dan berinteraksi lewat sosial media, Indonesia juga mengalami peningkatan pasar online atau biasa disebut e-commerce. Statistik Indonesia menunjukkan bahwa transaksi e-commerce Indonesia mencapai Rp 25,1 triliun pada 2014 dan akan naik menjadi Rp 69,8 triliun pada 2016, dengan kurs rupiah Rp 13.200 per dolar Amerika. Demikian pula pada 2018, nilai perdagangan digital Indonesia akan terus naik menjadi Rp 144,1 triliun.

sumber: databoks.katadata.co.id/

Hasil studi yang dilakukan oleh Google dan Temasek juga menegaskan ada beberapa hal yang perlu dilakukan Indonesia untuk menggali potensi besar dalam sektor ekonomi digital. Diantaranya peningkatan kualitas jaringan Internet, perbaikan infrastruktur logistik, penyempurnaan mekanisme pembayaran online, serta membangun kepercayaan yang lebih kuat dengan konsumen. 

Jika dibandingkan dengan negara di Asia Pasifik lainnya, kecepatan internet di Indonesia bisa dikatakan buruk. Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai negara dengan internet terlambat di Asia Pasifik dan urutan ke 93 dari total 194 negara di dunia. Untuk itulah pemerintah Indonesia kini telah mengaktifkan teknologi 4G. Dalam Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2017 di Gedung MPR/DPR bulan Agustus lalu, Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa pemerintah telah mengaktifkan teknologi 4G dengan didukung oleh jaringan Palapa Ring.
sumber: databoks.katadata.co.id/

Saat Presiden Jokowi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 di Cina, Pak Jokowi melihat bahwa negara-negara besar mulai menggaungkan revolusi industri baru dengan basis ekonomi digital. Hampir semua negara berbicara mengenai ekonomi digital. Menurut Pak Jokowi, potensi pasar yang sangat besar ini tidak boleh didiamkan dan beliau yakin potensi ini bisa menjadi fondasi bagi Indonesia untuk menjadi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. “Bandingkan dengan Cina, pengguna e-commerce telah mencapai 30 persen dan menyumbang PDB sebesar 20 persen,” kata Presiden Jokowi.

Nah, ayo kita jadikan posisi kita sebagai blogger dan digital influencer untuk membantu perekenomian Indonesia dengan menyediakan konten yang bagus dan transparan serta bertanggung jawab terhadap brand-brand yang kita rekomedasikan ke pembaca/pengikut kita. Mari kita gunakan media internet dengan baik dan bijaksana. Sudah lihat kan data di atas kalau masyarakat Indonesia tidak buta dengan informasi. Mereka dapat mengandalkan kita para blogger dan digital influencer dalam menentukan produk yang ingin mereka beli. So write good and be good! Until next blog post, everyone~

Source:
http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/03/27/di-asia-pasifik-kecepatan-internet-indonesia-jauh-tertinggal
http://katadata.co.id/infografik/2014/09/10/internet-lemot-indonesia-jauh-tertinggal
http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/08/23/indonesia-pengguna-internet-terbesar-ke-4-di-asia
http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/11/16/transaksi-e-commerce-indonesia-naik-500-dalam-5-tahun
http://databoks.katadata.co.id/datapublish/2016/12/22/konsumen-online-indonesia-ternyata-tidak-impulsif
http://www.bkpm.go.id/id/publikasi/detail/berita-kegiatan/jokowi-ingin-indonesia-jadi-negara-ekonomi-digital
http://www.bkpm.go.id/id/artikel-investasi/readmore/indonesia-targetkan-menjadi-negara-ekonomi-digital-terbesar-se-asean

photo sign_zpsqaqyukse.png

You Might Also Like

6 comments

  1. Sumpah demi apa gue juga kepikiran buat nulis dengan tema yang sama Maay hahahaa. Its very good words from you, suka banget bacanyaaa!
    Nambah knowledge jugaa :)

    Cindy,
    apriljournals.blogspot.co.id

    ReplyDelete
  2. Itu dia, kalau internetnya lambat juga akan mengahambat pertumbuhan ekenomi masyarakat, yang kebanyakan sudah berbasis internet.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagai org punya account carousell ini bnr bgt, sering customer marah2 dan akhirnya ga jadi beli krn message mereka delay klo ak ud ga pake wifii. Tsk tsk kapan ya internet di indo kaya di korea hehehehe

      Delete
  3. Blog itu masih sakti nggak sih sebagai senjata influencer? Kecenderungannya sekarang kok agency mulai nyari yg banyak followernya di media sosial & tidak terlalu mempersoalkan punya blog atau tidak. Anyway, postingan yang sangat bergizi. Thanks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. tergantung sakti dari sisi mana kataku sih mbak. klo dari sisi cari uang buat si subjectnya, emang kayaknya instagram user yang followernya bejibun tanpa punya blog sering dapet job buat promosi. tapi kan (kataku loh ya) klo org cari esp review akan suatu barang masih dari google sih yang ujung-ujungnya ngerefer ke blog-blog instead of instagram.

      Delete

instagram